Breaking

Friday, November 25, 2016

Cerita Pengalaman Ujung Dari Cerita Ini Ngesex

Cerita Pengalaman - Perkenalkan Nama Saya Bryan,umur saya 22 Tahun, yg tinggal di kota Medan Ortu ku tinggal di luar pulau karena Papaku bekerja di sebuah perusahaan pertambangan milik asing disana, sedangkan aku sejak kecil memang sengaja dititipkan pada kakek-nenekku di kampung dan entah apa alasannya, yg jelas bukan karena mereka tdk mampu mengurusku atau soal materi. Apa yg diberikan oleh kedua ortu ku meski memang melalui kakek-nenek justru berlebih jika dibandingkan dgn teman-teman sebayaku.
Cerita Pengalaman Ujung Dari Cerita Ini Ngesex

Meski begitu prestasiku dlm bidang pendidikan bisa dibilang cukup bagus, kenyataannya aku bisa diterima di salah satu SLTP Negri favorit di daerahku.

Kebetulan Kakek-nenekku menikah beda agama. Kakekku yg berasal dari desa adalah seorang muslim yg taat, sedangkan nenekku yg masih keturunan ningrat-belanda memeluk agama Katolik. Meski keduanya sayang kepadaku tp aku justru lebih dekat dgn kakek, dan yg jadi masalah adalah pengetahuan agamaku yg kurang karena aku beragama katolik sesuai dgn papa-mamaku.

Tak pernah sekalipun kakek mengajarkan tentang agamanya meskipun kami begitu dekat, sedangkan jika aku harus dekat dan belajar dgn nenek …. hihihihihi yg ada aku selalu di marahi dan dituntut untuk menjadi anak yg baik dan patuh dlm segi apapun degan cara nenek yg otoriter bagai kompeni itu.
Karna itulah aku selalu berlindung dibalik kakek, atau jika keadaan terdesak dan kakek pun merasa perlu menyerahkan aku pada nenek, aku lebih memilih kabur hingga kakek dan nenekku bahkan sampai bingung bagaimana aku bisa mendapatkan pemahaman agama yg baik,

 karena dlm semua mata pelajaran di sekolah, pelajaran agama adalah mata pelajaran yg paling jeblok dlm raporku. Suster Elin guru agamaku terkadang hampir habis kesabaranya saat mengajarku dlm kelas. Pengetahuan agama yg kurang ditambah sikap dan perilaku yg badung membuat beliau bahkan pernah datang ke rumah dan membahas soal kenakalan dan prestasiku yg jeblok di sekolah.
Suster Elin Op. beliau adalah seorang suster yg bertugas di paroki dan juga mengajar agama Katolik di sekolahku. Selain bekal pengetahuan agama yg kurang dari rumah, sebenarnya beliau Suster Elin ini adalah salah faktor yg membuat nilaiku justru jeblok di sekolah.

Bagaimana tdk, setiap beliau megajar bukan soal pelajaran yg aku serap, aku justru sering melamun soal beliau. Jika boleh aku gambarkan disini, beliau berasal dari NTT, dgn cirikhas orang timur berkulit sawo matang, posturnya bisa dibilang proporsional setdknya menurutku, tubuhnya ramping meski tdk terlalu tinggi, lekuknya samar tercetak dibalik baju keagamaan dgn ukuran pas badan, belum lagi kedua matanya yg bening namun tajam yg kadang menemaniku dlm khayalan saat beElinni baik saat di rumah atau di toilet sekolah.

Terlebih jika beliau sedang menulis di papan tulis, tangan kanannya yg terangkat karena papan tulis yg terlalu tinggi dan tangan kirinnya yg memegang buku panduan membuatku seolah ingin memeluknya dari belakang, meremas toketnya sambil menggesek-gesekkan kontolku di pantatnya yg kencang. kadang sesekali kupejamkan mata ketika sedang menikmatinya, hingga pada suatu hari …
“PLAAAAKKKKK…”

 Mataku terbelalak ketika Suster Elin sdh ada di hadapanku sambil memegang penggaris kayu besar yg tadi dipukulkannya di mejaku.
“Hei kamu Bryan, coba kamu jelaskan tentang Nabi Musa seperti yg suster ajarkan barusan? ” Suster Elin menatapku tajam seketika itu pula aku tertunduk, meski dgn diselingi gerakan menggaruk-garuk kepalaku sendiri.

“Anu suster …emmmm… anu …”
“matih aku ….” gumamku dlm hati. Dgn jumlah murid yg sedikit dan suasana yg begitu hening saat Suster menantikan jawabanku, membuatku tak berkutik untuk meminta bantuan bisikan dari teman di dlm kelas agama.
Beberapa menit aku tak kunjung mengeluarkan kata-kata untuk menjelaskan kembali pelajaran yg baru saja diajarkan Suster Elin.

“Sdh sana, kamu keluar dan tunggu di luar kelas”.
Dgn langkah gontai dan tanpa pembelaan akupun berjalan keluar dan duduk di depan pintu ruang agama Katolik. Bel pelajara berbunyi, aku masih tetap berada di depan pintu ruang agama dan menunggu apa yg akan terjadi selanjutnya. Kudgn doapenutup pelajaran agama sdh selesai dan tak berapa saat suster Elin keluar ruangan. Beliat menatapku dari kejauhan, namun saat melintasiku suster berlalu dgn sikap dingin tanpa menyapaku.
“Suster … suster …” aku berjalan mengejar beliau, namun Suster Elin tetap tak bergeming hingga saat aku beranikan diri untuk menyenuh lengan tangan kanannya. Seketika Suster Elin menghentikan langkahnya di lorong sekolah.
“Suster, Bryan minta maaf …. “

“Iya …” Suster Elin hanya mengeluarkan sepatah kata dgn raut wajah yg dingin dan kembali lagi melanjutkan langkahnya.
“Maafin Bryan suster … ?” aku masih terus mengejar dgn kata-kataku.
“Bryan janji akan bersikap baik di kelas dan memperhatikan pelajaran, tp suster maafin Bryan ya …? Kalau perlu berikan hukuman atas kesalahan Bryan …. ” Kali ini aku berdiri menghadang Suster Elin hingga beliau berhenti dan kedua bola matanya yg indah menatapku kembali dgn tajam.
“Baik jika itu permintaanmu, suster minta kamu datang ke Susteran jam 4 sore dan sekarang kembalilah ke kelasmu.”

“Terima kasih suster…” aku menundukkan kepala dan menggeser tubuhku untuk membirikan jalan.”
Waktu sdh menunjukkan pukul 3 sore, dan aku bergegas mandi, Setelah berpakaian rapi akupun menstater sedan Toy*ta hatchback yg dititipkan papaku di rumah kakek sepaket dgn aku. Meski belum cukup umur dan papaku juga jauh di luar pulau, tp aku sdh terbilang mahir membawa mobil berkat Om Agus adik bungsu dari mamaku yg masih kuliah dan tinggal di rumah kakek dan nenek.
Ahkirnya aku pun sampai di depan gerbang susteran. Setelah mobil kutepikan aku mngetuk intu pagar besi yg tertutup rapat dan tak lama keluarlah Suster Elin.
“Eh kamu Bryan, silahkan masuk ,”

“Dianter siapa Bryan.. ?” Suster Elin bertanya sambil bahasa tubuhnya seolah menanyakan siapa yg menungguku di dlm mobil.
“Saya sendiri suster…”
“Kamu sendiriaan?? Nyetir mobil itu…???” diikuti dgn tarikan nafas panjang dan gelengan kepala.
“Iya suster…. ” jawabku singkat dgn perasaan sedikit bangga namun tetap menunjukan mimik cemas akan reaksi suster Elin selanjutnya.
“Apa orang tua kamu mengijinkan?”
“Papa dan mama di luar pulau suster, Bryan dari kecil …. bla … bla … ” ahkirnya sore itu suster Elin tahu tentang keadaanku yg sebenarnya, bahkan raut wajahnya yg biasanya datar pun kulihat berubah menunjukan rasa trenyuh dgn keadaanku.

Kami berdua sdh duduk di sebuah bangku panjang ruang tamu susteran sambil aku menceritakan kondisi kehidupanku, dan perlahan suasana semakin mencair, apalagi kondisi susteran saat itu sedang sepi, hanya ada aku dan suster Elin.
Belakangan aku tahu juga bahwa tempat itu hanya ditinggali oleh 3 orang suster diantaranya adalah suster Dominika, suster Gema dan Suster Elin, mereka punya kesibukannya masing-masing. Suster Dominika yg seorang Kepala Sekolah SMA yayasan Katolik lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah selain melakukan pelayanan gereja atau berkunjung ke rumah-rumah umat di lingkungan paroki.

Suster Gema yg sdh berumur pun tak kalah sibuk memberikan pelayanan gereja, pelayanan umat, dan sering melakukan ziarah ke tempat-tempat yg disucikan oleh umat Katolik baik di dlm maupun luar kota karena diminta umat untuk menjadi pembimbing rohani. Sedangkan suster Elin yg lebih banyak tinggal di susteran bisa disebut masih baru di lingkungan paroki kami. Tugas pokok suster Elin selain melayani gereja adalah sebagai guru agama di sekolahku. Yah, selain belum lama ditugaskan di paroki ini suster Elin juga tdk memiliki sepeda motor seperti Suster Dominika dlm beraktifitas,nhanya kegiatan yg benar dirasa perlu saja yg bisa dihadiri olehnya sehingga praktis beliau lebih banyak tinggal sendirian di susteran.
“Kasihan kamu Bryan … kamu pasti sangat merindukan orangtuamu ya …?” suster Elin mendekatkan dirinya dgn posisi tubuh yg mengarah padaku sambil mengusapkan tangannya di rambutku.

“eh… oh, iya suster ….” aku menjawab sekenanya karena belaian tangan suster di kepalaku saat itu membuat tubuhku tiba-tiba merinding seperti tersengat listrik meski hanya hitungan detik.
Aku refleks melihat wajah suster Elin yg saat itu duduk disampingku, ingin rasanya kudekatkan wajahku dan mencium bibir tipisnya, arrrghhh ….
Suster Elin kemudian menarik tangannya dari kepalaku dan merubah posisi duduknya sambil menghela nafas panjang. Kepalanya menengadah keatas cukup lama dan saat itu pula kulihat matanya berkaca-kaca.

“suster kenapa? apa perkataan Bryan ada yg salah…?
“Enggak kok Bryan, gak ada yg salah … ” Suster Elin menjawab sambil menyeka air mata yg menetes di sudut matanya dgn jari.
“Suster hanya …. ” suster Elin menghentikan kata-katanya sambil menarik nafas dlm-dlm.
“Bryan minta maaf kalau Bryan salah, maaf sdh bikin suster sedih dgn cerita Bryan…”
“Enggak Bryan, kamu gak salah …. Suster sedih karena teringat orang tua di NTT ..” “Saat ini Ibu suster sedang sakit parah dan dirawat di rumah sakit ….”
“owh … maaf suster, Bryan gak tahu …”

“Suster ingin sekali bisa pulang tp suster belum bisa ….”
“Sabar ya suster ….” entah kenapa aku tiba-tiba berani meraih dan menggenggam tangan suster Elin.
“Yg penting sekarang kita doakan ibu suster agar kondisinya semakin membaik, kita doakan juga saudara-saudara disana agar senantiasa diberikan ketabahan dan kekuatan dlm merawat ibu suster….”. Ya …. sekali lagi anehnya aku bisa dgn luwes melontarkan kata-kata untuk menenangkan hati suster Elin saat itu.
Seketika itu pula suster Elin melepaskan tangannya dari genggamanku dan memelukku dari samping dgn erat.

“Terima kasih Bryan …. kamu baik sekali …. selama ini suster sdh salah menilaimu …”
W.O.W … Jantungku serasa berhenti berdetak ketika payudara suster Elin menempel di lenganku, meski memang saat itu masih terhalang oleh baju yg kami kenakan. Rasa empati yg ada dlm diriku berubah drastis menjadi nafsu yg berkobar saat gundukan kenyal yg samar tergambar dlm otakku, tonjolan bulat berukuran sedang namun padat dan kencang itu lembut menekan lengan kiriku. Dlm hitungan detik suster Elin sdh melepaskan pelukannya saat aku masih berusaha untuk menikmatinya.
“Maaf Bryan … ” suster Elin terbata-bata dan kembali memperbaiki posisi duduknya.
“Tdk apa apa suster … ” meski sebenarnya aku sanga bersedia memberikan tubuhku sebagai tempat pelampiasan emosinya … huft …

Kami berdua sama-sama terdiam, entah apa yg ada di pikiran suster saat itu namun dlm benakku hanyalah kelembutan payudaranya yg masih saja terngiang.
“Sebaiknya sekarang kamu pulang Bryan …” suster Elin memulai kembali pembiciraan kami.
“Lalu hukuman atas keslahan Bryan di kelas …?”
“hukuman? … emmm … tdk ada hukuman buat kamu Bryan … suster hanya minta agar kamu lebih konsentrasi dan bersungguh-sungguh dlm belajar … dan sekarang suster ingin berdoa sendiri untuk kesembuhan ibu …”
“Baik suster, kalau begitu Bryan pamit …”
“Terima kasih Bryan, berhati-hatilah di jalan …”
Aku menganggukkan kepala dan membalikan badan menuju pintu keluar..
“Bryan … ” suster Elin berjalan mengikutiku keluar
“Tolong jgn ceritakan kejadian tadi pada siapapun.”
“Dan satu lagi, kapanpun kamu mau, kamu boleh datang kesini….”
“Baik suster, Bryan pamit …”

Semenjak saat itu hubunganku dgn suster Elin semakin membaik, di kemudian hari saat aku berpamitan pada kakek nenek untuk berkunjung ke susteran, justru nenek acapkali menitipkan makanan atau lauk pauk untuk para suster disana. Memang hal ini tak lazim jika dilakukan oleh remaja khususnya cowok seumuranku, Aku tak peduli, berbagai alasan kugunakan agar aku bisa selalu dekat dgn suster kesayanganku itu.

Mulai dari mendapatkan hukuman, pendlman imanku, atau alasan memberikan pelayanan dan pengabdian pada gereja, (gereja dlm arti luas). Begitu pula dgn suster Elin, aku yakin beliau pasti melakukan hal yg samai pada suster lainya, lingkungan atau umat yg mungkin melihatku mondar-mandir di susteran itu. Memang tak sering dan tak banyak yg bisa kulakukan disana, misalnya seperti membersihkan halaman susteran, menyapu dan mengepel lantai atau berkonsultasi mengenai masalah keagamaan dan semua itu kulakukan dgn tanpa terpaksa.

Hubungan yg aneh … tp entah kenapa masih saja kujalani dan begitupun kurasakan dgn suster Elin. Hubungan kami tak lagi seperti seorang murid kepada gurunya atau seorang rohaniawan dgn umatnya. Kami sdh seperti sahabat, bahkan seperti sepesang remaja yg menyimpan perasaan satu sama lain, untukku memang hal ini berlaku namun bagi suster Elin? Apakah perasaanku ini juga sama dirasakannya?
Hingga pada suatu waktu;

“Bryan, anterin suster ke goa tritis yuk …?
“hmmm … boleh suster, memang ada acara apa disana..?
“tdk ada acara khusus, suster hanya ingin ziarah dan melakukan doa pribadi saja …”
Hari minggu ahkirnya kami sepakati untuk berangkat ziarah. Rencananya memang sepulang dari misa di gereja langsung bertolak ke tempat ziarah, namun karena awal musim hujan yg membuat cuaca jadi kurang bisa ditenukan … Terkadang hujan tiba-tiba datang dan berhenti tanpa bisa dikehendaki, sama seperti pada hari itu… Sedari pagi hujan mengguyur kota kami, meskipun tdk terlalu lebat namun berlangsung cukup lama. Kami bahkan sdh berencana membatalkan tujuan saat itu, sekali lagi entah kenapa sepertinya rasa yg menggebu membuat aku dan suster Elin tetap berangkat kesana saat hujan mulai reda.

Toyota Starlet yg kukendarai sdh sampai di area parkir goa tritis. Meski bigeti perjalanan belum selesai karena memang untuk mencapai tempat itu harus dilanjutkan dgn berjalan kaki melalui jalan setapak terjal dan naik turun perbukitan.

DI perjalanan, aku bak seorang pangeran yg sedang menikmati keindahan alam bersama seorang putri yg cantik jelita saat itu. Betapa tdk, nanyian merdu suara alam seolah mengiringi perjalanan kami melintasi jalan bebatuan yg terjal dan licin di tempat itu. Sesekali aku dgn sigap meraih tangan suster Elin yg kesulitan melangkahkan kaki di bebatuan terjal atau tanjakan curam, bahkan kami sempat beberapa kali terbawa suasana hingga lupa melepaskan tangan. Nafsu birahi yg biasanya memuncak saat membayangkan suster Elin menemaniku beElinni, kini ditambahi dgn perasaan aneh yg belum pernah aku rasakan. Detak jantung yg bedegup semakin kencang dan nafasku pun tak beraturan … Apakah ini yg dinamakan dgn cinta?

Sampai di goa tritis kulihat masih ada beberapa pengunjung yg melakukan doa disana. Tak ketinggalan kamipun berdoa bersama, meskipun kemudian suster Elin mempersilahkan aku untuk menunggunya sebentar karena beliau ingin memanjatkan doa-doa khususnya secara pribadi.
Aku berjalan-jalan mengitari mulut goa sambil menyalakan sebatang rokok sambil menunggu suster Elin selesai dgn doanya. Suster Elin memang tahu kalau aku merokok namun beliau tdk pernah lagi memarahiku, hanya terkadang menasehatiku akan bahaya rokok, atau soal uang pembelian rokok yg lebih baik kutabung . Hubungan kami benar-benar sdh sampai pada titik dimana kami bisa menerima kekurangan masing-masing.

Hari sdh semakin sore dan rintik hujan sdh mulai turun, aku bergegas memperingatkan suster Elin untuk segera menyelesaikan doaya da turun dari bukit. Hanya kami berdua yg basih ada di dlm goa dan kami putuskan untuk segera pulang. Hujan yg semakin deras memaksa kami harus berdekapan dibawah payung lipat yg sdh disiapkan oleh suster Elin. Seharusnya aku bisa menikmati ini, namun hujan yg semakin deras memaksaku untuk lebih berkonsentrasi dgn jalanan yg tdk bersahabat hingga kuputuskan untuk berteduh di sebuah aula tak jauh dari goa itu. Suasana yg sunyi ditambah hembusan angin yg kencang menerpa tubuh kami yg sedikit basah terkena hujan, membuat kami berdiri berhimpitan di teras aula itu.

“Sebaiknya kita berteduh sambil menunggu hujan mereda …” aku mencoba memcah keheningan saat itu.
“Iya Bryan …brrr ….” Suster Elin mejawab dgn menggigil dgn tangan yg disilangka seolah menciba menghangatkan tubuhnya sendiri.
Secara refleks kutelusupkan tangan kananku diantara punggung suster Elin dgn dinding aula yg dingin. Kugenggam tangan kanannya dan kuelus perlahan sembari berkata …
“Maaf suster, Bryana gak tega melihat suster kedinginan….”
Suster Elin tdk merespon kata-kataku, hanya kulihat mataya mengerling kepadaku. Suster Elin hanya menatap kedepan, sesekali meringkuk menundukkan kepala menaha dingin yg menerpa kami sore itu. Ingin rasanya kudekatkan wajahku dan kukecup pipinya, namun saat itu aku masih ragu-ragu. Hingga aku sdh merasa tak kuasa mengungkapkan peasaanku kepadanya… “
“Suster … Bryan sayang sama suster ….”
Suster Elin memalingkan wajahnya kearahku, namun beliau hanya diam saat bertatapan dlm jarak yg sangat dekat.

“Aku juga sayang sama Bryan ….”. Selang beberapa saat suster Elin membuka bibirnya, meski saat itu ia menundukan kepalanya saat mengungkapkan rasa sayangnya kepadaku.
Bagai melayg diudara saat itu, entah hujan atau gondoruwo penunggu bukit inipun seolah akan mampu aku hadapi nanti, yg penting saat ini aku bisa berlama-lama dgn kekasih hatiku ….
“Terima kasih suster …” aku mengusap lengan kanannya dan sesekali kuremas lembut.
Kami berdua larut dlm suasa hening, jantungku berdesir seolah sedang bermain trampolin di dlm tubuhku. Sesekali kami salig bertatapan kemudian memalingkan muka. Hingga kuberanikan diri mendekatkan wajahku dan mengecup bibirnya. Suser Elin tak menolak, namun ia hanya menundukkan kepalanya. Aku semakin berani dan kubuah posisiku hingga kami saling berhadapan. Suster Elin menatapku dan kami kembali saling berciuman.

Kali ini suster Elin mencoba membalas ciuamku, bibir kami saling berpagutan seolah ingin saling menunjukan kedlman cinta kami satu-sama lain. Aku yg memang sdh terbiasa bermain cinta dgn pacar-pacarku, ditambah dgn referensi film biru yg sering kutonton, membuatku tak puas dgn hal itu. Kontolku yg sdh tegang saat kami saling berpelukan dibawah payung, menjadi semakin besar dan mengeras mendesak suster Elin. Kuusapkan tanganku di punggungnya sambil kami tetap saling berpagutan, sesekali kuturunka hingga mengenai pantatnya yg memang benar kencang seperti bayanganku selama ini. Sampai hinga saat aku hendak menyingkapka roknya, suster Elin melepaskan ciumannya dan kemudian mendorongku agar menjauh.

“Jgn Bryan … kita sdh terlalu jauh …. Dan aku rasa kita sdh sangat salah dan berdosa…”
Emosiku bergejolak saat itu, akal sehatku justru semakin hilang saat kudengar kata-kata suster Elin itu.
“Tp suster … Bryan benar-benar sayang sama suster…”
“aku tahu, dan aku juga sayang sama Bryan … tp …”
Aku berjalan mendekat dan kupeluk suster Elin ….
“Ijinka Bryan menunjukan rasa sayang Bryan, setdknya untuk sekali ini saja …” entah setan apa yg merasukiku sehingga kata-kata itu tiba-tiba kubisikan di telinga suster Elin.
Mata kami kembali beradu seketika bibir kami pun juga kembali berpagutan.

Kutarik tangan kanan suster Elin yg masih terasa ragu menelusup kedlm celana jeansku, masih terasa susah karena kami juga masih menikmati lidah kami yg juga saling beradu. Dgn sigap kubuka kancing dan retsliting celanaku hingga kontolku pun terbebas mengacung meski masih dlm gengaman suster Elin. Kubimbing tangannya untuk mengocok kontolku yg besar dan panjang itu.
Aku masih berkonsentrasi dgn bibirnya, sesekali kuremas payudaranya dari luar bajunya. Hingga saat kocokan tangannya kurasakan semakin berirama, kutekan kedua bahunya kebawah. Suster Elin sepertinya sdh sedikit paham dgn maksudku. Ia sdh dlm posisi berlutut dan dihadapannya sdh mengacung kontolku yg tegak mengacung, kepalanya menengadah dan kedoa bola matanya menatapku dlm-dlm.

Tanpa kata-kata seolah Ia tahu apa yg harus dikerjakan saat kugerakkan pantatku perlahan hingga ujung kontolku menyentuh bibirnya. Bibirnya yg tipis perlahan terbuka seolah mempersilahkan kontolku merasakan kehangatan mulutnya. Perlahan kepalanya mulai bergerak maju-mundur dgn penuh perasaan,
“plop…flop… slrph…’’’
“terus suster … terus sayang …” aku meracau sekenanya sementara sesekali kulihat suster kesayanganku sdh mulai mahir memijaat kontol besarku dgn mulutnya .
“Pelan sayang …” aku bahkan memintanya untuk mengulum penisku perlahan, karena saat itu aku merasa akan segera mencapai puncaknya.
“Creett … Creett …Creett … Creett …”

“Arggghhhhgh ..hueks … aaaahhhhhhhhh ….” suster Elin terkejut dan seketka melepaskan kontolku keluar dari mulutnya.
Spermaku pun berjauhan saat ia membuka mulutnya yg kutembakan beberapa kali bahkan saat ia mencoba melepaskan kontolku justru tembakan yg tersisa mengenai pipinya.
“Bryan … kamu jahat …”
Aku mendekap tubuh kekasihku itu dan kukecup keningnya, kamipun kembali berpelukan sambil menunggu hujan reda di tengah hutan itu.Cerita Pengalaman