Breaking

Thursday, December 22, 2016

Cerita Pengalaman Rona Cewek Seksi

Cerita pengalaman Sedarah, Cerita Pengalaman Sekolah, Cerita pengalaman Selingkuh, Cerita pengalaman suster, Cerita Pengalaman Tante, Cerita Pengalaman Bersama Teman.  

Cerita Pengalaman Rona Cewek Seksi
Cerita Pengalaman Rona Cewek Seksi

Cerita Pengalaman -  Ini adalah sebagian kisah kehidupan yg kualami, sebelumnya aku akan memberikan sedikit gambaran tentang diriku. Vivi namaku, aku seorang wanita yg telah 26 tahun berada di dunia ini, aku terlahir dari buah cinta seorang keturunan Pakistan dan Jerman, jadi tak heran kalau aku mewarisi kecantikan ras bangsa aria dgn tinggi hampir 170 cm dan berat badan yg ideal. Aku sendiri sangat bersyukur karena Tuhan memberikan anugerah kecantikan dan kemolekan tubuh seperti ini, wajar saja semasa kuliah dulu aku sering menjadi rebutan teman pria di kampusku. Sekarang aku telah menjadi Ibu rumah tangga dan aku pun sangat mencintai kekasih yg kini menjadi suamiku.
 

Mungkin karena berada di tempat yg baru dgn suasana baru pula yg membuat aku dan suamiku begitu bergairah malam ini. Memang tadi siang kami baru berjalan-jalan di sekitar kota utk hanya sekedar mengenal tempat yg utk beberapa waktu kedepan akan menjadi tempat tinggalku yg baru. Mas Ranu suamiku memang baru mendapat promosi utk memimpin cabang perusahaan dimana suamiku bekerja, dan aku memang terpaksa ikut dgn suamiku pindah kekota baru ini karena aku tdk mau berpisah dgn Mas Ranu suamiku.

Sudah hampir 1 tahun pernikahan kami, tetapi rasanya baru kemarin kami berhadapan dgn penghulu di hadapan sanak keluarga. Aku sangat mencintai Mas Ranu suamiku dan begitu jg sebaliknya sehingga rasanya kami menikmati bulan madu terus setiap hari walaupun sudah hampir setahun usia rumah tangga kami. Seperti malam ini walaupun seharian kami keliling kota Bandung, tp rasanya kami tdk merasa lelah utk sekedar menumpahkan rasa cinta kami yg begitu menggebu.


http://www.buatenak.online/


“Ayo Mas, katanya malam ini Mas mau bawa aku terbang..”
Mas Ranu memang tdk pernah menolak kalau aku sudah mulai merajuk seperti itu.
“Iya, sebentar Mas mau ambil air minum dulu ya, sayang..”, ujarnya sambil beranjak dari tempat tidur dan bergegas keluar kamar utk mengambil segelas air. Mas Ranu memang biasa menyiapkan air minum sebelum kami melakukan hubungan suami istri, katanya biar tambah tenaga kalau nanti mau ronde kedua.

Sepeninggal Mas Ranu aku segera menanggalkan pakaianku sehingga aku kini telanjang bulat dan segera masuk kebalik selimut. Ketika Mas Ranu kembali aku berpura-pura memejamkan kedua mataku.
“Lho, katanya mau terbang ko malah bobo sih”.

Aku diam saja, Mas Ranu duduk ditepi tempat tidur dan menarik selimutku. Mas Ranu sedikit terkejut ketika mendapati tubuhku yg sudah telanjang bulat ketika dia menarik dan mencampakkan selimut tersebut ke lantai. Tentu saja bila melihatku sudah seperti ini Mas Ranu akan segera menanggalkan pakaiannya dan langsung menerkam tubuh molekku yg tengah menanti kedatangannya.

“Hhh.. mmmpphhh..”.
Mulutku mulai mengeluarkan suara, tangan Mas Ranu mulai menelusuri tubuhku, agak tergesa ia menyentuh dua bukit kembar yg membubung di dadaku. Aku semakin memuncak, kali ini usapan lidah Mas Ranu yg bermain di dadaku. Lama ia mengulum, menjilat dan terkadang menggigit kecil puting susu yg telah tegak berdiri dgn kokohnya di kedua belah payudara indahku.

“Aaahhh.. Vivi sayang.. ayo kita terbang sayang..”.
Aku diam dan menjawab erangan Mas Ranu dgn perlawanan cumbuan yg semakin panas. Perlahan mulut Mas Ranu turun menjalar mendekati perutku dan terus melewatinya dan akhirnya.., sentuhan lidah yg basah kembali kurasakan menyapu organ tubuhku yg paling sensitif, mulutku mulai meracau entah kemana dan kujepit erat kepala Mas Ranu dgn kedua paha putihku.

Hampir setiap kami melakukan hubungan badan tiap saat itu pula Mas Ranu memainkan liang kewanitaanku dgn jilatan dan sapuan-sapuan lidah yg basah, tp aku seakan tdk pernah bosan terus saja ingin kembali mendapat sensasi yg menyenangkan itu.

“Ohh.. Mas.. ayo.. Mas aku sudah siap.. ak.. aku.. sudah basah..”.
Aku mulai membuka lebar kedua kakiku menanti tindakan Mas Ranu selanjutnya. Perlahan Mas Ranu mulai merayap naik mensejajarkan tubuhnya dgn tubuhku.
“Sebentar ya sayang.. aku pake ini dulu”.

Mas Ranu bergerak mengambil bungkusan kecil berisi kondom yg memang selalu tersedia di laci tempat tidur kami.
“Sudahlah Mas.. nggak usah pake itu sekarang.. aku udah nggak kuat nih”
“Iya.. sebentar yaang..!”

Dgn sigap Mas Ranu memakai kondom dgn tangan kanannya sedangkan tangan kiri tetap tak lepas dari puting susuku seakan takut lepas dari genggamannya.
Memang kami selalu melakukan safe sex utk mengatur kelahiran anak kami, Mas Ranu belum berkeinginan utk punya momongan saat ini, katanya ia belum siap dan ingin menyiapkan segalanya dulu utk anak-anak kami. Kalau tdk dgn sistem kalender ya dgn memakai kondom pada saat masa subur memang sangat membantu menunda kehamilanku.

Aku sendiri kurang senang dgn keadaan seperti ini, disamping aku memang sudah ingin punya momongan jg karena rasanya ada sesuatu yg kurang bila saat bersetubuh ada yg menghalangi penyatuan kami walaupun itu hanya sebuah karet tipis. Walaupun itu tdk mengurangi kenikmatan hubungan sex tp terkadang aku selalu ingin lebih dari apa yg diberikan Mas Ranu.

Aku memang tergolong wanita dgn hasrat sex yg begitu tinggi, terkadang aku baru benar-benar terpuaskan bila sudah mencapai orgasme lebih dari satu atau dua kali.
Aku sudah benar-benar basah, kali ini Mas Ranupun telah siap memasuki diriku. Perlahan ia mengarahkan senjatanya ke selangkanganku dan sedikit dibantu dgn goyangan dari pantatku, amblaslah senjata kebanggaan milik Mas Ranu di memekku, walau tdk terlalu besar tp kontol ini telah benar-benar membuatku mabuk kepayg akan nikmatnya bercinta.

“Ohh..” mataku terpejam, detik berikutnya kami berpacu saling mengisi satu sama lain dlm hasrat birahi, goyangan dan genjotan diiringi ciuman dan gigitan kecil meng hiasi kamar tidur kami, dan akhirnya..
“Aaa.. Vi.. Viviii..!” sedikit terpekik Mas Ranu mengejang utk beberapa saat dan akhirnya terkulai lemas diatas tubuhku.

Mungkin karena terlalu capek sehabis seharian jalan-jalan Mas Ranu mencapai klimaks terlebih dulu meninggalkan aku yg tengah berpacu mengejarnya. Rasanya seperti digantung ditempat yg jauh, aku berusaha mengejar dgn terus menggoyangkan pantatku dan memeluk erat tubuh Mas Ranu yg terkulai lemas.

 Walaupun akhirnya masa klimaks itu datang jg tetapi aku tetap saja seperti belum benar-benar melayg seperti masa-masa pertama kami melakukan hubungan sex, ya aku selalu ingin lebih tp aku hanya diam memeluk tubuh Mas Ranu yg masih menindihku.
“Terima kasih Viviku Sayang..”, Mas Ranu mengecup telingaku sambil berbisik dan kemudian tertidur disampingku.

Pagi ini sengaja Mas Ranu mengajakku utk bersama kekantornya dan akupun ingin melihat kantor baru Mas Ranu sekaligus berkenalan dgn para karyawan disana. Sesampainya di kantor kami mulai berkenalan dgn para karyawan.
“Rekan-rekan sekalian inilah pimpinan kita yg baru silakan anda semua berkenalan dgn beliau”.

Pak Ikbals mulai memperkenalkan kami kepada para karyawan. satu persatu kami mulai bersalaman dan saling memperkenalkan diri masing-masing mulai dari staf manager sampai karyawan level dibawahnya.

setelah selesai acara perkenalan akhirnya Pak Ikbals menunjukan reuangan kantor suamiku, sedikit tentang Pak Ikbals ini adalah wakil pimpinan sementara sebelum suamiku mengambil alih tugas memimpin perusahaan ini. Ia berumur sekitar 32 tahun dgn porsi tubuh begitu proporsional menurutku dan suamiku pun telah mengenal sedikit tentang Pak Ikbals karena ia pernah di tempatkan di kantor pusat bersama suamiku.
“Mari silakan Pak, Bu.., ini kantor Bapak yg baru disini ”
“Oh.. iya terima kasih Pak Ikbals, nah ini Ma, kantor baru Papa”
“Wah bagus jg ya Pa, saya rasa tak kalah bagus dgn suasana yg di kantor pusat”
“Silahkan Pak, sebentar saya tinggal dulu”
“Iya.. iya silakan”
Setelah Pak Ikbals pergi kemudian kami masuk ke ruangan kantor yg cukup lebar dgn segala sesuatu yg tertata rapi.

Karena nggak kikuk aku sengaja melepas blazer warna cerah yg kukenakan, pagi itu aku memekai pakaian agak sedikit formal dgn rok selutut dan blouse warna putih tanpa lengan yg lumayan tipis lalu di di tutup dgn blazer, wah anggun sekali aku kelihatannya pagi ini.

Tok.. tok.. tok.. tiba-tiba pintu kantor terdengar diketuk dari luar.
“Masuk!” Mas Ranu mempersilakan utk segera masuk.
“Maaf Pak, saya hanya mau ngasih berkas laporan terakhir cabang di sini Pak”.
Ternyata Pak Ikbals yg masuk dan membawa berkas utk di berikan kepada suamiku.

Pak Ikbals agak sedikit terkejut ketika matanya tertuju ke arahku yg telah membuka blazer tadi sehingga lengan mulusku terlihat jelas dan garis BH ku terpampang karena tipisnya blous yg kukenakan.
Lama ia menatapku dgn tatapan mata yg tajam membuat aku agak risih dan tentu saja dadaku berdegup kencang.
“Oh iya makasih Pak Ikbals”
“Baik Pak saya permisi dulu”
“Silahkan!”, setelah Pak Ikbals pergi Mas Ranu mendekatiku dan duduk di sofa yg tertata di kantor itu.
“Gimana Vi, Baguskan suasana disini?”
“Ya.. lumayan ramah jg orang-orangnya, tp Pak Ikbals itu agak aneh ya Mas”
“Ah, enggak mungkin karena dia baru melihat kamu aja sehingga dia kaya gitu, sebenarnya di baik dan ramah kan?”
“Iya jg sih Mas..”.

Lama aku di kantor Mas Ranu hingga saat makan siang dan kamipun makan bersama beberapa staf manager. Mas Ranu banyak bercerita terutama tentang aku, semua kebaikanku dan kemanjaan seakan menjadi kebanggaan bagi Mas Ranu. Kemudian mereka pun berbagi cerita ringan sekitar maslah keluarga dan setelah acara makan siang selesai aku diantar pulang oleh Mas Ranu kerumah setelah itu ia kembali ke kantor.

Tdk terasa sudah hampir sebulan kami tinggal di Bandung ini dan akupun semakin betah saja tinggal disini. Hampir setiap akhir pekan sengaja suamiku mengajak beberapa karyawannya utk sekedar rekreasi bersama bersama keluarga masing-masing sehingga semakin mengenal satu sama lain.

Hanya Pak Ikbals yg selalu hadir tanpa didamping keluarga nya karena memang ia belum beristri apalagi punya anak, katanya ia belum siap ia utk memulai keluarga. Ternyata memamg Pak Ikbals ini orangnya baik dan sangant menghormati Mas Ranu dan aku sebagai sesama rekan sekaligus atasannya. Terkadang ia datang kerumah hanya sekedar utk mengobrol dgn kami berdua dan meminta pengalaman berumah tangga katanya.

Pagi itu setelah Mas Ranu berangkat kekantor, seperti biasa aku mulai beres-beres merapikan rumah karena aku memamg sengaja tdk mau ketika Mas Ranu menyuruhku utk cari pembantu. Alasannku karena aku jg ingin punya kesibukan dan mengurus suami dgn baik, setelah membereskan rumah dan memasak utk makan siang aku lalu bergegas mandi utk membersihkan tubuhku.

Segar sekali rasanya guyuran air menyiram tubuhku, lama aku berendam dgn air hangat sambil membayangkan perlakuan Mas Ranu ketika kami memadu cinta walaupun akhir-akhir ini memang Mas Ranu sering kecapean dan terpaksa meninggalkanku utk tidur lebih dulu.

Setelah mengeringkan badan, kutatap tubuhku didepan cermin kamar mandi, dan akupun tersenyum sendiri melihat kemolekan tubuhku. Sepasang gumpalan gading yg membusung dgn porsi tak kurang dari 36b, perut yg ramping dan kaki yg jenjang semua itu selalu kurawat dgn baik utk aku persembahkan kepada suamiku tercinta.

Aku mulai mengelus bulu-bulu hitam yg tumbuh di antara kedua paha mulusku, segera kuambil gunting kecil utk memangkas bulu-bulu itu yg sudah mulai panjang. Aku memang selalu mencukurnya bila demikian agar selalu kelihatan rapi, setelah kubersihkan dgn sabun sirih yg dapat membuat wangi aroma memekku lalu aku mulai mengenakan pakaian.

Aku mengenakan bluos model ‘U can C’ dgn rok yg agak panjang menutupi lututku.
Baru saja kunyalakan TV diruang tengah utk melihat telenovela kesayanganku, tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi tanda ada seseorang datang bertamu.
“Sebentaar..!”

Bergegas aku menuju pintu depan utk membuka pintu, kupikir tumben Mas Ranu pulang secepat ini utk makan siang.
“Selamat siang Bu..”
“Eh.. Pak Ikbals, ada apa Pak?” ternyata tamu itu adalah Pak Ikbals asisten suamiku.
“Anu Bu, Bapak ada meeting dgn klien dari jepang siang ini dan Bapak membutuhkan berkas yg ketinggalan di rumah, jadi.. saya diminta Bapak utk mengambilnya kesini”, dgn sopan Pak Ikbals menyampaikan maksud kedatangannya.

“Oh.., hmm tp saya nggak tahu mana berkas yg Bapak butuhkan, soalnya banyak file yg menumpuk di meja Bapak, nanti saya ambil dulu ya Pak.. mari silakan duduk dulu!”
“Oh.. iya Bu, tp maaf Bu.. kalau boleh saya minta segelas air, kalau enggak merepotkan?”
“Ah enggak kok, sebentar saya ambilkan, silakan duduk dulu!”,

kemudian aku menuju dapur dan kembali membawa dua gelas es sirop ke ruang tamu.
“Silakan diminum Pak, saya ambil berkasnya dulu ya”
“Iya Bu, Terima kasih”.

Lalu aku menuju ruang kerja Mas Ranu utk mengambil berkas yg dimaksud, tp karena aku tdk tahu mana berkas yg di maksud akhirnya kubawa semua map yg berisi berkas-berkas yg ada di meja kerja suamiku.
“Ini Pak, tp saya nggak tau berkas yg mana”, kemudian saya duduk setelah menyerahkan berkas-berkas tersebut.
“Iya Bu, biar saya cari sendiri”
“Lho kok airnya belum diminum, ayo Pak minum dulu”
“Oh iya Bu makasih”.

Pak Ikbals mengambil gelas sirop yg ada di hadapannya dan akupun mengambil gelas yg ada di depanku utk sekedar menemaninya minum. Lama Pak Ikbals memilih berkas yg kuberikan sambil kuperhatikan didepannya, dgn teliti Pak Ikbals mengamati berkas-berkas tersebut. Rupanya mungkin karena matahari yg mulai meninggi sehingga aku merasa agak gerah menyerang tubuhku, padahal aku baru saja mandi sebelum Pak Ikbals datang.

Entah apa yg terjadi, yg jelas kurasakan ada sesuatu menyerang diriku, rasa gerah itu meninggi sehingga menimbulkan gairah dlm dadaku.
Aku semakin kelihatan gelisah dan rasanya sensitifitas tubuhku kian bertambah saja karena sedikit saja pantatku bergerak utk bergeser dari tempat dudukku, rasanya gesekan itu semakin nikmat menekan belahan memekku dari luar. Untung saja Pak Ikbals terfokus pada berkas-berkas tersebut sehingga tdk menyadari kalau aku semakin tampak gelisah.

Kutatap Pak Ikbals yg lagi asyik dgn berkas-berkas dihadapanku, semakin tambah saja gairah birahi didadaku.
Sosok tubuh Pak Ikbals mengingatkan aku akan belaian tubuh Mas Ranu suamiku, Oh..
Tuhan mungkin aku mulai gila karena tiba-tiba saja aku membayangkan tubuhku dicumbu oleh Pak Ikbals. Detik berikutnya aku merasa pusing menyerang kepalaku dan rasa kantuk menyerang kedua mataku.
“Maaf Pak, saya tinggal dulu kepala saya agak pusing” tanpa menunggu jawaban Pak Ikbals aku berdiri hendak menuju kamar tidurku, tp kalau saja Pak Ikbals tdk menangkapku pasti aku akan terjatuh kelantai.
“Bu Vivi.. Ibu kenapa?”
“Entahlah Pak.. Kepala saya pusing”
“Kalau begitu mari saya antar ke kamar”

Akhirnya aku dituntun Pak Ikbals menuju kamar tidurku sambil sebelah tanganku memeluk tubuh Pak Ikbals. Lalu aku di baringkan diatas tempat tidurku dan Pak Ikbals bergegas keluar kamar. Selang berapa lama Pak Ikbals kembali kedlm kamar sambil tangan nya membawa sesuatu yg entah apa karena aku mataku benar-benar tersa berat.
Antara sadar dan tdk kudengar Pak Ikbals menutup pintu kamar dan menguncinya dari dlm, lalu ia meletakan sesuatu diatas meja rias kamar tidurku.
“Lho Pak, kok pintunya dikunci”

Hanya itu yg keluar dari mulutku, Pak Ikbals diam tak menjawab tp ia beranjak mendekati aku yg tergolek lemas ditempat tidurku. Diambang kesadaran kurasakan sesuatu yg basah merayap menelusuri kakiku dan terus beranjak naik menuju pahaku, tanganku berusaha mencari tahu apa sebenarnya yg menelusuri kaki dan pahaku.
“Oh.. Pak Ikbals.. apa yg Bapak lakukan..” aku tersentak kaget ketika kudapati ternyata lidah Pak Ikbals menempel di belahan pahaku.

“Tenanglah Bu.. nikmati saja..”, aku berontak, aku tak bisa membiarkan kekurang ajaran orang ini, aku harus bisa melepaskan diri dari bajingan ini, tp tak berdaya aku melakukan semua itu, tubuhku lemas dan yg lebih celaka lagi dorongan hasrat yg menggebu itu bertambah menjalari seluruh tubuhku.

“Bajingan kau.. lepaskan!, aku ini istri atasanmu..” tp Pak Ikbals menjawab teriakanku dgn tangannya yg berusaha menarik rok yg aku kenakan dan mencampakannya ke lantai dan selanjutnya kedua tangannya pula yg menarik celana dlmku sehingga terlepas dari tempatnya, maka terpampanglah bagian tubuhku yg paling rahasia yg selama ini hanya aku dan suamiku yg tahu keberadaannya.

“Kurang ajar.. Bajingan.. lepaskan..!” kembali aku berteriak sambil berusaha menendang, tp lagi-lagi aku begitu lemah dan tiba-tiba saja lidah Pak Ikbals yg basah menyeruak menyapu organ tubuhku yg paling sensitif.

“Akhh..” Oh.. Tuhan nikmat sekali rasanya lidah orang ini, tubuhku mengejang, lama lidah Pak Ikbals bermain dgn Memekku dan sesekali ia menyentuh dan menggigit clitorisku yg mulai mengembang dan mengeras.

Cairan memekku mulai keluar meleleh berbaur dgn air liur Pak Ikbals yg masih saja menusukan lidahnya ke memekku.
Tiba-tiba tubuhku kembali menegang, dan kurasakan sesuatu menjalar diseluruh tubuhku dan seakan berkumpul dirahimku lalu..

“Ohh.. hh.. Akh..” erangan panjang dari mulutku mengiringi semptotan cairan hangat yg keluar dari dlm liang memekku dan membasahi mulut Pak Ikbals. Pelacur.. aku orgasme dgn orang selain suamiku dan hendak memperkosaku dgn biadab, tp rasanya nikmat sekali orgasmeku yg pertama dari Pak Ikbals ini dan aku selalu menginginkan lebih dari itu. Kini tubuhku benar-benar lemas sambil kedua pahaku tetap menghimpit kepala Pak Ikbals dgn nafas yg terengah-engah.

Perlahan Pak Ikbals melepaskan kepalanya dari selangkanganku dan merayap keatas tubuhku yg masih belum bisa membuka mataku.
“Gimana sayang.. kita lanjukan permainan ini?” Pak Ikbals berbisik ditelingaku.
“Ja.. hh.. jangan Pak sudah..” sebentar Pak Ikbals menghentikan aksinya mungkin utk memberiku kesempatan mengumpulkan tenaga kembali.

“Bu Vivi, Ibu tahu kalau saya udah jatuh cinta saat pertama melihat Ibu, jadi nikmati saja tanda cinta dari saya.
“Tdk Pak.. jangan..” setengah menangis aku memelas agar ia mau melepaskanku dari nafsu bejatnya.

Pak Ranu sangat beruntung memiliki Ibu.., cantik dan bertubuh idaman lelaki..” sambil terus bicara rupanya Pak Ikbals menaggalkan seluruh pakaiannya.
Dgn lembut ia mencium keningku, hidungku, pipiku dan sambil menghembuskan nafasnya ia mencium telingaku membuat gairah dlm tubuhku kembali berkobar dan seluruh bulu-bulu halus di tubuhku berdiri.

“Bibir Ibu indah..” itu yg terdengar sebelum ia melumat kedua belah bibir sensualku, aku berusaha menghindar tp nikmat sekali rasanya.
Perlahan aku mulai membalas dgn membuka bibirku membiarkan lidah Pak Ikbals menyeruak masuk kedlm mulutku.

Ia melepaskan ciumannya lalu bergerak menelusuru leherku dan berusaha menggigir puting susuku yg masih terbungkus rapi oleh blous dan BH. Kembali tangannya merayap menggerayg perutku lalu menari blouseku keatas dan melepaskannya, kini pertahanan diriku hanya BH yg menutup rapat kedua gumpalan payudaraku.

“Beautifull breast.. indah sekali sayang..”
Dgn sekali tarik terlepaslah BH itu dari tubuhku sehingga kini aku telanjang bulat di hadapannya. lalu ia menyentuh bagian terakhir dari tubuhku yg belum dijamahnya, kedua payudara yg indah milik suamiku.

“Padat dan kenyal.. kau memang pandai merawat tubuh sayang..”
Ia mengulum dan membenamkan wajahnya di belahan dadaku. aku menggelinjang dan hasratku lebih berkobar akhirnya kudekap tubuh yg menindih diatasku, oh.. Tuhan ia sudah telanjang bulat, kurasakan belahan pantatnya di kedua tanganku. Lama ia menelusuri dan mengeksploitasi payudaraku ketika tiba-tiba ia bergerak merenggangkan tubuhnya dari tubuhku dan beringsut naik sehingga kurasakan sesuatu yg keras menempel di wajahku, aku tersentak kaget.

“Ayo sayang mainkan punyaku please..!” kudengar ia merajuk sambil menarik tanganku utk memegang dan memainkan benda itu.
Ia mengarahkan kemulutku tp aku tak mau, benar-benar tak mau karena aku memang tdk biasa melakukannya jg dgn Mas Ranu suamiku.
“Ti.. tdk.. aku nggak mau”
“Ayo sayang buka mulutmu, nanti kau akan menikmatinya..”

Dgn agak terpaksa aku membuka mulutku dan mulai menciumi kontol Pak Ikbals, sebenarnya ukuran kontol Pak Ikbals hampir sama dgn milik suamiku tetapi punya Pak Ikbals sedikit lebih panjang dan agak membesar di bagian kepalanya. Akhirnya perlahan aku mulai menjilati dan mengulum kontol itu.

“Ohh.. Nikmat sekali sayaang, kau memang pintar”
Pak Ikbals mengerang sambil meremas rambutku lalu ia mendorong dan menarik kontolnya di mulutku. Aku terus mengutuk diriku yg rela memberikan sesuatu yg lebih pada orang lain daripada utk suamiku karena selama ini aku selalu menolak kalau Mas Ranu minta utk memasukan kontolnya ke mulutku.

Lama Pak Ikbals menikmati sentuhan lidahku sampai akhirnya ia pun tak tahan utk segera mengakhiri semuanya. Perlahan kembali ia merayap turun mensejajarkan tubuhnya dgn tubuhku sambil terus melumat wajah dan payudaraku.

“Jangan.. Pak.. aku mohon jangan.. aku nggak mau menghianati suamiku.. please..!” utk kesekian kalinya aku memelas sambil berusaha merapatkan kedua kakiku dan mendorong tubuh Pak Ikbals agar menjauh dariku.

Tanpa mempedulikan rintihanku Pak Ikbals bergerak berusaha membuka kakiku dan menempatkan tubuhnya diantara kedua kakiku. Dgn reflek kedua tanganku bergerak menutupi selangkanganku, tp kembali tanagn Pak Ikbals menarik kedua tangan ku dan membawanya keatas kepalaku. Langsung saja ia menyapu kedua ketiakku yg mulus tanpa bulu dgn lidahnya, kembali akupun merasakan sensasi kenikmatan sebagai akibat sapuan lidahnya yg basah itu.

“Ohh..” tubuhku bergetar sesuatu yg keras berusaha menyeruak masuk lubang kenikmatanku, dan perlahan benda itu mulai tenggelam dlm selangkanganku. Aku mendongak, mataku terpejam merasakan sensasi kenikmatan yg tiada taranya dan diakhiri dgn satu sodokan kuat akhirnya amblaslah seluruh kontol Pak Ikbals kedlm liang memekku.

Tubuhku terasa penuh seakan benda itu menancap tepat di rahimku, hilanglah sudah pertahanan terakhir kesucian rumah tanggaku. Tanganku mencengkram erat tubuh Pak Ikbals dan menancapkan kuku-kukuku di pundaknya, perlahan tetes air mata mengalir disudut mataku yg terpejam. Lalu Pak Ikbals mulai menggerakan pantatnya dan mulai mengobok-obok isi liang memekku.

“Ohh.. Vivi.. nikmat sekali.. Kau.. kau.. begitu rapat..” Pak Ikbals terus mengocok memekku maju dan mundur dan akupun semakin menikmatinya, hilang rasanya rasa pedih dihatiku terobati dgn kenikmatan yg tiada taranya.

Mulutku mulai meracau mengeluarkan desahan dan ocehan.
“Akhh.. Pak.. Aduuh.. ohh..” lama Pak Ikbals memacu birahinya dan akupun mengimbanginya dgn menggelora, sampai akhirnya kembali aku mengejang dan sambil memeluk erat tubuh Pak Ikbals aku kembali menyemprotkan cairan yg meledak dlm rahimku, aku orgasme utk yg kedua dari Pak Ikbals.

Utk beberapa saat Pak Ikbals menghentikan gerakannya dan memeluk erat tubuhku sambil melumat bibirku. Aku benar-benar menikmati orgasme yg kedua ini, mataku terpejam sambil kulingkarkan kedua kakiku ke pinggang Pak Ikbals.
Tak berapa lama kemudian Pak Ikbals mencabut kontolnya yg masih mengacung kokoh dari dlm rahimku.

“Oh..” ada sesuatu yg hilang rasanya dari tubuhku.
Perlahan ia bergerak menyamping dan membalikan tubuhku, kali ini aku pasrah dan lemah tak berdaya hanya menurut saja. Kembali ia menaiki tubuhku, kali ini dari belakang dan mulai menusuk-nusukan kontolnya ke pantatku.

Akupun menyambut sodokan benda tumpul itu dgn sedikit membuka kakiku dan mengangkat pantat kenyalku, cairan yg keluar dari rahimku mempermudah masuknya senjata Pak Ikbals melalui jalan belakang dan kembali menancap di memekku.

Ia bergerak sambil kedua tangannya meremas payudaraku dari belakang dan menggenjotkan pantatnya menghantam liang memekku
Gesekan demi gesekan kurasakan semakin nikmat menyentuh kulit halus liang memekku, tanganku mencengkram erat seprei tempat tidurku yg acak-acakan.
“Ohh.. Vivi.. sayang.. bawa aku ke puncak.. Ohh..”

Pak Ikbals benar-benar hebat, ia bisa bertahan lama menggauliku dgn berbagai posisi, sedangkan akupun semakin gila saja meladeni nafsu setan Pak Ikbals. Utk ketiga kalinya aku mencapai klimaks sedangkan Pak Ikbals mesih saja berpacu diatas tubuhku. Sekarang pasisi tubuhku duduk dipangkuan laki-laki ini sambil mendekap dgn kepala mendongak kebelakang, leluasa ia mencumbu leherku yg mulai sudah basah dgn keringat yg keluar dari seluruh pori-pori tubuhku.

Seakan tak pernah puas terus saja ia mengulum dan menjilati kedua payudaraku, kurasakan kontol Pak Ikbals menghujam telak keliang senggamaku yg mendudukinya. Kocokan demi kocokan yg semakin gaencar kurasakan menggesek kulir memekku sebelah dlm, erangan dan cengkraman menghiasi gerakannya.

Kali ini aku benar-benar melepaskan seluruh hasratku yg selama ini terpendam, aku tak mempedulikan lagi siapa laki-laki yg menyetubuhiku, yg jelas aku ingin terpuaskan.
Lama posisi duduk itu berlangsung sampai akhirnya tubuh Pak Ikbals semakin gencar menyodok memekku, gerakannya semakin cepat. Pak Ikbals menghempaskan tubuhku kembali terlentang ditempat tidur, tubuhnya mengejang dan memeluk rapat tubuhku sampai aku hampir tak bisa bernafas. Lalu kurasakan semburan hangat dgn kencang membentur dinding rahimku.

“Akhh..” Pak Ikbals mengerang panjang sambil menekan pantatnya kebawah dgn keras, kucengkram dan kembali kulingkarkan kakiku kepinggangnya dan akupun melepaskan sisa orgasme yg masih tersisa ditubuhku.

Utk orgasme yg terakhir ini kami berlangsung hampir bersamaan, akhirnya dgn terkulai lemah tubuh Pak Ikbals roboh menindih tubuhku yg lemas pula. Lama kami terdiam merasakan sisa kenikmatan itu dan akhirnya Pak Ikbals mulai beringsut menjauh dari tubuhku.


“Terima kasih Vivi sayang..” setengah sadar dan tdk kudengar Pak Ikbals membisikan kata-kata itu sambil mengecup keningku.
Lalu ia berdiri mengambil sesuatu dari meja riasku dan berdiri mematung di samping tempat tidur. Aku tdk tahu kapan ia pergi karena setelah itu aku tertidur karena lelah dan kantuk yg menyerangku tanpa mempedulikan keadaan kamar tidurku yg acak-acakan.

Jam lima sore aku baru terbangun dari tidurku, tubuhku serasa hancur dan capek bukan kepalang, aku tersentak kaget begitu kulihat jam di dinding kamarku menunjukan pukul lima sore. Oh.. sebentar lagi suamiku Mas Ranu pulang bagaimana kalau ia mendapati keadaan diriku yg seperti ini dgn sisa sperma yg mulai lengket membanjir di selangkanganku. kulihat banyak sekali cairan sperma Pak Ikbals keluar meleleh dari dlm memekku bercampur dgn cairan rahimku dan membasahi seprei tempet tidur.

Setengah merangkak aku menuju kamar mandi membersihkan tubuhku dari bekas keringat dan dosa, guyuran air hangat membuat tubuhku sedikit lebih segar walaupun rasa capek itu masih tersa ditubuhku.

Kulihat memekku memerah dan bekas cupangan nampak di payudaraku, lama aku berada di kamar mandi menunggu cairan sperma Pak Ikbals keluar semua meninggalkan liang rahimku. selesai mandi cepat-cepat kubereskan tempat tidurku dang mengganti seprei serta sarung bantil guling dgn yg masih baru, aku tak ingin Mas Ranu curiga.
Aku masih termenung memikirkan kejadian siang tadi, aku mengutuk diriku sendiri dan sangat menyesal dgn hal itu. Bajingan benar Pak Ikbals itu, ia telah menodai kesucian rumah tanggaku yg selama ini kujaga dgn baik.

Yg lebih kusesalkan lagi akupun menikmati permainannya yg sangat nikmat. Belum pernah aku merasakan senggama sepanjang itu dgn Mas Ranu, aku bisa mencapai klimax sampai empat kali, kuakui hebat sekali permainan Pak Ikbals. Jam delapan malam suamiku baru sampai dirumah.

“Maaf ya Sayang, aku nggak sempat pulang makan siang, soalnya ada klien dari Jepang yg mengajakku makan siang”
“Nggak apa-apa kok Mas..” hanya itu yg keluar dari mulutku.

Sebulan kejadian itu telah berlalu dan akupun menutup rapat mulutku dari siapapun walaupun itu teman baikku, aku tak ingin rumah tanggaku hancur dgn perceraian gara-gara kejadian itu. Dan selama itu pula aku aku mengabdi benar-benar kepada Mas Ranu suamiku, aku ingin membalas kelakuanku itu dgn menjadi istri yg baik dan mengabdi pada suami, tp tetap saja perasaan bersalah itu terus menghantuiku. Kadang suamiku heran dgn perubahanku yg terkadang memanjakan dirinya, selama itu pula aku selalu berada dirumah, aku takut bertemu dgn bajingan itu lagi.

Suatu ketika suamiku menjamu klien yg lumayan besar disebuah restoran, kami datang dgn pasangan masing-masing dan inilah kali pertama aku bertemu dgn Pak Ikbals yg ikut pada jamuan makan tersebut. Ia datang bersama teman wanitanya yg lumayan cantik, katanya ia telah resmi bertunangan dgn wanita itu. Agak grogi aku ketika bertatapan dgn matanya.

“Selamat malam Bu Vivi apa kabar?, kenalkan ini Widya tunangan saya!”.
Aku diam dan bersalaman dgn tunangannya, aku heran ternyata sikapnya masih sopan dan ramah padaku seakan tdk pernah terjadi sesuatu diantara kami. Klien suamiku kali ini seorang pria yg sudah berumur dgn tubuh yg agak tambun, ia didampingi teman wanitanya yg cantik dan agak nakal, aku tahu dari sikapnya ia hanya seorang perempuan panggilan yg sengaja menemaninya.

Pak Imron nama lelaki itu, yg tdk kulupakan ia mempunyai tatapan yg nakal ketika melihatku seakan menelanjangi seluruh tubuhku dan menghempaskannya ketempat tidur. Dari gaya bicaranya pun ia terdengar agak kurang ajar dan membuatku sangat muak mendengarkannya. Tdk ada kejadian apa-apa malam itu, aku pulang dgn suamiku dan perpisah dgn pasangan Pak Imron dan Pak Ikbals.

Sudah menjadi kegiatan rutin Mas Ranu suamiku utk memberikan laporan bulanan kekantor pusat di Jakarta dan hal ini kadang membuat Mas Ranu harus menginap dijakarta. Biasanya ia pulang kerumah orangtuanya dan menginap disana, dan aku terpaksa sering ditinggal sendiri di Bandung. Seperti kali ini suamiku mesti kembali ke Jakarta dan menginap disana selama tiga hari, karena katanya akan ada meeting dgn dewan komisaris hari berikutnya.

Seperti biasa sore itu baru saja aku kembali dari toko swalayan utk membeli kebutuhan dapur, ketika sampai didepan pintu rumah kudapati sebuah bungkusan kado tergeletak disana. Dgn rasa penasaran kubuka bungkusan itu dan ternyata isinya adalah sebuah VCD kaset yg bertuliskan namaku di covernya, kuperhatikan sekeliling rumahku utk mencari orang yg meletakan VCD tersebut tp tdk kutemukan.

Bergegas aku masuk dan kunyalakan VCD player di ruang tengah tempat kami biasa menonton TV. Mataku terbelalak kaget dan tubuhku menggigil ketika menyaksikan adegan dilayar TV, seorang wanita dan seorang lelaki tengah bergumul diatas tempat tidur yg tak asing lagi bagiku.

Ya.. itu adalah adegan aku dan Pak Ikbals waktu itu dgn sangat jelas tergambar adegan demi adegan.

Tubuhku lemas dan kepalaku menjadi pusing, belum aku menyadari apa yg terjadi terdengar suara telepon berdering, perlahan kudekati dan kuangkat..
“Gimana Sayang..? baguskan VCDnya?” kudengar suara yg tak asing lagi di gagang telepon.

“Pak.. Pak Ikbals.. kurang ajar.. bajingan kamu.., belum puas kamu memperkosaku..”
“Ah sayang, bukankah kau jg menikmatinya, sengaja VCD itu kukirim buat kenang-kenangan”
“Biadab aku sudah.. membuangnya..”
“Nggak apa-apa aku masih punya copynya kok, kalau kamu mau aku bisa mengirimkannya lagi”
“Bajingan..! serahkan copynya padaku, aku nggak mau benda itu dilihat orang lain”
“Bisa saja Sayang, asal kau mau memenuhi permintaanku..”
“Kau mau apa lagi dariku..”
“Aku cuma ingin kau menemaniku makan malam, aku ada teman yg mengajakku makan malam dan harus membawa teman wanita”
“Gila bagaimana kalau suamiku tahu..?”
“Tenang saja dia kan lagi diluar kota.. pokoknya aku jemput nanti jam setengah enam” tanpa mempedulikan jawabanku ia menutup teleponnya.

Aku bingung kepalaku tambah pusing gimana kalau suamiku mengetahui hal ini, buru-buru kuambil VCD itu dan kubakar sampai tak bersisa. Malam itu seperti janjinya Pak Ikbals datang kerumah utk menjemputku, tp aku menolak aku tak mau terjebak utk yg kedua kali oleh laki-laki ini.

Tp kemudian ia mengancam akan menyebarkan VCD itu ke internet dan menyerahkannya ke suamiku, aku seperti makan buah simalakama.

Akhirnya aku mau jg ikut denganya, karena kupikir paling buruk ia meniduriku lagi walaupun ia hanya mengatakan utk ditemani makan malam dgn temannya. Pak Ikbals menyuruhku memakan gaun terseksi yg aku punya dan akupun melakukannya, gaun tanpa lengan warna ungu dgn bawahan yg menjuntai kelantai menutupi kakiku.

Aku benar-benar sexy dan anggun malam itu seakan hendak mengikuti acara formal saja, gaun sebatas dada yg terpaksa menonjolkan belahan payudaraku melekat ketat membuat puting susku tergambar dgn jelas karena gaun seperti ini memang dirancang utk tdk mengenakan BH.

Berangkatlah aku dan Pak Ikbals menuju sebuah hotel didaerah lembang, hatiku semakin tak karuan ketika ternyata Pak Ikbals sudah membuking sebuah kamar di hotel itu, dan kami tdk langsung menuju restoran hotel melainkan masuk kesebuah kamar
karena katanya mereka janji sekitar jam sembilan dan masih tersisa waktu satu jam.
“Kau benar-benar sexy malam ini sayang..”
“Hentikan Pak.. jangan panggil aku sayang.. aku bukan kekasihmu” Pak Ikbals hanya tersenyum mendengar gerutuanku.

Baru saja kami masuk kedlm kamar, tiba-tiba saja Pak Ikbals memelukku dari belakang, aku berusaha berontak tp ia menghimpitku dgn kencang dan tangannya langsung menyergap kedua payudaraku yg membusung.
“Ayolah sayang aku ingin menikmatinya tanpa pengararuh obat tidur, tdk seperti waktu itu, aku ingin kau melayaniku dgn hasratmu sayang.. aku tahu kaupun menginginkannya”

Akhirnya akupun pasrah menuruti keinginannya toh ia sudah mendapatkan tubuhku dan akupun tak sanggup membendung hasratku utk mengulang kembali kenikmatan lelaki ini seperti waktu itu. Pak Ikbals mendorong tubuhku sehingga aku terhimpit ketembok, ia memegang kedua tanganku dan mengacungkan keatas menempel ke dinding sambil mulutnya terus menelusuri leherku.

Perlahan tangan kanannya merayap kebawah dan menarik belahan gaunku keatas sehingga kini pantatku tersingkap, nafasku mulai terengah mendapat perlakuan seperti ini. Detik berikutnya kurasakan sebuah benda kenyal dan keras mengusuk-nusuk pantatku yg masih mengenakan celana dlm, dgn cekatan ia menarik kain tipis tersebut dari tempatnya sehingga kini menggantung dilututku, lalu ia kembali menyodokkan kontolnya dari arah pantatku.

Secara refleks, naluri kewanitaanku menyorongkan pantatku ke belakang dan agak merenggangkan kedua kakiku sehingga kini kontol lelaki itu mulai menggesek bibir memekku yg mulai basah. Nikmat sekali rasanya gesekan itu dan aku ingin lebih, aku membungkuk agar ia leluasa memasuki tubuhku, tp entah kenapa ia menghentikan aksinya dan membalikan tubuhku.

“Sabar sayang.. Belum saatnya” rupanya ia mempermainkan aku yg kini duduk terengah ditempat tidur.

Pak Ikbals menatap tajam kearah kedua mataku sambil mulai mendekatiku kembali, ia mulai membuka jas yg dikenakannya lalu mulai melepaskan kancing kemeja dan terakhir ia membuka celananya. Kuakui memang ia mempunyai tubuh yg sempurna dgn dada yg bidang dan otot-otot paha yg kokoh, ia hanya mengenakan CD dan mulai menyentuh pipiku.

“Kau memang cantik sayang.. aku beruntung bisa menikmatimu”
Belum sempat aku berkata-kata, mulutku sudah disumpal dgn belahan bibirnya, ia memasukan lidahnya kemulutku dan akupun menerimanya dgn balasan yg lebih menggelora, lama kami berpagutan sambil tangannya terus saja menggeraygi tubuhku. Ia menarik resluiting gaunku dan menyusupkan tangannya dari arah belakang terus menuju pinggangku dan terakhir meremas belahan pantat kenyalku. Mulutnya kini telah berada di dadaku, seakan tak pernah puas ia terus mengulum dan menjilati kedua payudaraku secara bergantian, kini tubuhku terlentang dgn kaki menjuntai menuju lantai.

Tok.. tok.. tok.. tiba-tiba saja kami dikejutkan oleh suara ketukan pintu kamar, sesaat kami saling pandang lalu Pak Ikbals tersenyum dan bergegas menuju pintu kamar.
“Ah.. dia sudah datang..” dgn hanya memakai CD ia berjalan menuju pintu meninggalkanku dlm keadaan setengah bugil dgn bagian atas terbuka dan gaun bawah tersingkap dgn celana dlm menggantung dilututku.

Aku tersentak kaget ketika ternyata orang yg mengetuk pintu itu menyeruak masuk kedlm kamar, dgn reflex aku masuk kebalik selimut utk menyembunyikan tubuhku yg setengah telanjang.

“Wahh.. wah.. rupanya Pak Ikbals sudah memulai tanpa saya..” dari balik selimut kudengar suara yg pernah kudengar sebelumnya di telingaku.
“Belum Pak.. saya hanya pemanasan dulu, sambil menunggu kedatangan Bapak..”
“Kalau begitu saya jg udah nggak sabar nih.. Pak”
“Silakan Pak.. utk sementara saya jadi penonton..” hatiku berdegup kencang mendengar
percakapan mereka, bagaimana kalau mereka meniduriku secara bergantian?, kudengar dari balik selimut lelaki yg baru datang ini mulai melepaskan pakaiannya dan selanjutnya ia menarik selimut yg menutupi tubuhku.
“Lhoo.. kenapa sembunyi sayang.. ayo dong aku sudah nggak sabar..”

Mataku terbelalak kaget ketika selimut yg menutupi tubuhku mulai bergeser meninggalkan tubuhku, aku berusaha mempertahankan diri.
“Ohh.. Kau..” ternyata yg berdiri didepanku adalah Pak Imron lelaki yg pernah makan malam bersama suamiku, lelaki yg sangat menjijikan kelakuannya bagiku dan kini lelaki itu berdiri di hadapannku hanya mengenakan celana dlm dan siap menerkam tubuhku yg setengah telanjang.
“Jangan Pak.. hentikan..” aku berusaha menjauh.
“Ayolah sayang jangan takut.. aku memang tak setampan Pak Ikbals, tp aku tdk akan menyakitimu..”
“Bajingan kau.. pergi.. aku nggak sudi..”
“Sudahlah sayang.. nikmati saja..” kudengar Pak Ikbals berkata sambil menuju kearahku.

Belum sempat aku berkata lagi Pak Imron bergerak menangkap tanganku dan menarik menuju ke badannya sehingga aku tersungkur dlm pelukannya.
“Hentikaan.. Apph..” mulutku tersumbat oleh bibir Pak Imron yg di tumbuhi bulu-bulu
kumis yg tebal, ia berusaha memasukan lidahnya kemulutku.
Aku berusaha berontak dan menendang tp gerakanku tertahan oleh sepasang tangan Pak Ikbals yg memegang kedua kakiku dari arah belakang. Oh Tuhan.. mereka berdua memperlakukannku seperi binatang, selanjutnya tangan Pak Ikbals menarik gaunku yg telah merosot di tubuhku sehingga kini aku benar-benar telanjang.
“Silahkan Pak.., Bu Vivi udah siap.. saya ingin jadi penonton dulu..”

Pak Ikbals kembali menjauh dan duduk di sofa sambil terus menyaksikan adegan dimana Pak Imron mempermainkan tubuhku.

Dgn kasar Pak Imron menjamah seluruh tubuhku, mulai dari kaki sampai ujung kepala, ia meraba, menjilat dan menggigit puting susuku. Pak Imron seperti anak kecil yg mendapat mainan baru memperlakukan tubuhku.

“Ohh.. Sayang.. indah sekali.. toketmu..”
“Ahk..” jari tangan Pak Imron bermain diselangkanganku mengobok-obok tempat suci yg selama ini kupelihara.
Ia menyibakkan rambut hitam yg tumbuh rapi disana dan menyelipkan jari tangannya diantara bibir memekku. tubuhku mengejang, ia menusuk-nusukan jarinya dgn kasar dan mengorek-orek isi memekku. lalu ia memutar tubuhnya menjadi posisi 69. Pak Imron menyapukan lidahnya di memekku terus menuju lubang anusku.
“Ooohh..” aku mengerang, kekasarannya justru menimbulkan sensasi baru dlm tubuhku, nikmat rasanya dan kurasakan tubuhku mengejang.. aku orgasme dgn sentuhan lidah
Pak Imron, tp mulut Pak Imron tak beranjak dari selangkanganku ia melumat setiap cairan yg aku keluarkan dari dlm liang memekku.

Tubuhku lemas utk beberapa saat, tp hal itu tdk berlangsung lama, Pak Wiraya membuka celana dlmnya tersembullah benda berurat yg menegang dgn ukuran sangat berbeda dari ukuran umum, benda itu begitu besar dan panjang. Aku bergidik membayangkan kontol sebesar itu menyodok memekku dan menembus rahimku.
“Ayo sayang.. mainkan..”

Pak Imron mengarahkan kontolnya ke mulutku, aku tak dapat menghindar, akhirnya kontol itu masuk kedlm mulutku walau hanya setengahnya saja. Sesak rasanya nafarsku disumpal kontol sebesar itu. Rupanya Pak Imron sudah tak sabar lagi dgn keadaanku seperti itu, ia mulai bergerak memposisikan tubuhnya di atas tubuhku.

Pak Imron berjongkok di bawah pantatku sambil kedua tangannya memegang kedua kakiku dan membukanya lebar-lebar, lalu ia mulai menggeser pantatnya mendekati selangkanganku dan mengarahkan senjatanya munuju liang memekku yg terbuka lebar.
Dgn kasar ia menggesek-gesekan kepala kontol yg besar itu ke bibir memekku yg sudah licin dan berusaha menyelipkannya ke memekku.
“Akkh.. pelan.. pelan.. Pak.. sakit.. Awww..” mataku mendelik, tubuhku mengejang dan kepalaku mendongak saat Pak Imron mendorong pantatnya ke arah memekku.
“He.. he.. he.. gimana sayang.. nikmat kan..?”

Kurang ajar.. bajingan ini malah tertawa melihat diriku yg berkelojotan menahan senjatanya. Kontol besar itu bergerak menerobos memekku, sakit sekali rasanya walaupun aku bukan pertama kali bersetubuh tp ini benar-benar besar. Tanganku berusaha menahan sodokan pinggang Pak Imron, tp ia lalu memegang kedua tanganku dan dan menghimpitnya keatas kepalaku sambil tubuhnya bergerak menindih tubuhku.
Akhirnya amblaslah setengah kontol Pak Imron diliang memekku, ia berusaha terus menekan utk memasukan seluruh batang kenyal itu, tp kapasitas liang memekku memang tak mungkin menampung kontol sepanjang itu.

Utk beberapa saat lamanya aku merasakan sakit yg luar biasa di selangkanganku, robek rasanya bibir memekku tetapi selanjutnya kurasakan kenikmatan yg mulai menyerang tubuhku. Perlahan Pak Imron mulai mmemaju mundurkan pantatnya, kenikmatan demi
kenikmatan kurasakan dgn perasaan selangkangan yg selalu penuh. Melihat keadaan Pak Imron dan aku yg seperti itu rupanya membuat gelora Pak Ikbals bangkit lagi karena dgn mata terpejam menikmati permainan Pak Imron Kurasakan sesuatu menyeruak memasuki mulutku, ternyata Pak Ikbals berdiri di dekat kepalaku sambil mengarahkan
kontolnya ke mulutku. Akhirnya aku melayani mereka berdua dgn gairahku yg meledak-ledak pula.

Malam itu aku benar-benar menjadi mainan mereka berdua, seakan tak pernah lelah mereka bergantian memasukan memasukkan senjatanya ke lubang bibirku baik yg atas maupun yg bawah.

Akupun akhirnya melayani mereka dgn sangat menggebu menumpahkan segalanya dan mengejar orgasme demi orgasme. Mungkin karena bekas Kontol Pak Imron yg terlalu besar sehingga Pak Ikbals kurang menikmati cengkeraman memekku sehingga dgn dibantu Pak Imron yg memegang dan menghimpit tubuhku diatas tubuhnya, Pak Ikbals memasukan kontolnya ke lubang anusku jg.

Seperti adegan dlm film BF saja Pak Imron menggenjot memekku dan Pak Ikbals menerobos anusku dari bawah. Berbagai macam gaya mereka praktekkan kepadaku malam itu, semburan demi semburan membanjiri liang memekku. Kadang Pak Imron melepaskan spermanya di memekku lalu sesaat kemudian Pak Ikbals menambahnya dgn semburan hangat pula.

Hampir menjelang pagi, baru mereka tertidur setelah mereka membuat aku mencapai orgasme yg ke lima kali. Sambil terus memeluk tubuhku, kedua lelaki ini tergeletak tak berdaya. Jam sepuluh pagi Pak Imron bangun terlebih dahulu dan setelah mandi ia meninggalkan aku dan Pak Ikbals yg masih tergeletak di tempat tidur.

Akhirnya Pak Ikbals membopong tubuhku utk mandi dan berendam bersama di bath tube kamar tidur dan kamipun makan siang dgn room service. Kupikir segalanya akan berakhir di sini, ternyata Pak Ikbals masing mengajakku melakukan perbuatan itu lagi sampai malam selanjutnya.
Kali ini kami berdua menumpahkan segalanya, keesokan harinya dgn tubuh yg sangat lunglai aku pulang diantar taksi meninggalkan Pak Ikbals yg masih tidur telanjang di tempat tidur. Aku tdk mau suamiku Mas Ranu pulang dan mendapati aku tdk ada di rumah.

Sebulan kemudian kudapati diriku mulai mual-mual dan terlambat datang bulan, dan setelah kuperiksakan ke dokter ternyata aku positif hamil tiga minggu. Mas Ranu gembira sekali walaupun kaget karena selama ini kami melakukan safe sex selama melakukan hubungan badan.

Aku benar-benar merasa bersalah kepada suamiku karena aku tahu pasti janin ini bukan benih Mas Ranu, entah Pak Ikbals atau Pak Imron yg berhasil menghamiliku dan sampai saat ini aku menjaga rahasia besar ini.
Ketika kami merayakan selamatan tujuh bulan kehamilanku, aku mendapat bingkisan yg ternyata berisi master dari video adegan ranjangku dgn Pak Ikbals. Semenjak itu aku tdk pernah melihat Pak Ikbals lagi karena ia keluar dari perusahaan dan ikut Pak Imron mengurus perusahaannya di kota lain. Akhirnya dari Pak Ikbals, aku tahu bahwa sebenarnya ia menjual diriku ke Pak Imron dgn imbalannya ia menjadi pimpinan di anak perusahaan Pak Imron yg baru.


Sponsor : Jika ingin taruhan online seperti permainan Poker | DominoQQ | Capsa Susun | AduQ │BandarQ│Bandar Poker

http://www.ompoker.info/?ref=joss0909