Breaking

Sunday, July 16, 2017

Cerita Pengalaman Aku Menikmatinya Walaupun Terpaksa

Cerita pengalaman Sedarah, Cerita Pengalaman Sekolah, Cerita pengalaman Selingkuh, Cerita pengalaman suster, Cerita Pengalaman Tante, Cerita Pengalaman Bersama Teman

Cerita Pengalaman Aku Menikmatinya Walaupun Terpaksa

Cerita Pengalaman Aku Menikmatinya Walaupun Terpaksa - Sebagai keluarga dari kalangan atas, menghabiskan waktu liburan berbintang lima di Nusa Dua Bali bukanlah masalah bagi keluarga Melinda. Selama beberapa hari Melinda menghabiskan waktu liburan dengan suami dan dua orang anaknya disana.
Setelah beberapa hari, suami Melinda mengajaknya untuk ke Lombok. Tapi dengan alasan Melinda merasa bosan dengan tempat itu, juga perjalanan dengan kapal fery yang yang cukup makan waktu, maka Melinda menolak ajakan suaminya itu.

Akhirnya suami dan kedua anaknya segera menuju Lombok tanpa Melinda. Melinda, 31 tahun, walau sudah punya anak dua orang tapi penampilan dan gayanya mirip dengan layaknya gadis kota masa kini. Wajah sangat cantik, putih, dan tubuh sintal selalu membuat lelaki manapun akan tertarik.

Salah satu nilai lebih dari rumah tangga Melinda adalah kebebasan yang diberikan suaminya kepada Melinda untuk boleh bergaul atau jalan dengan siapa saja asal Melinda selalu jujur kepada suaminya itu. Hal ini terjadi karena suaminya sangat tahu akan libido Melinda yang sangat tinggi hingga suaminya agak kewalahan dalam melayani kebutuhan seksual Melinda. Dan nilai lebih dari Melinda adalah kejujuran kepada suaminya bila dia jalan dan main dengan pria lain.

Pagi itu di restoran hotel, ketika Melinda sedang makan pagi..

"Hei…", terdengar suara diiringi dengan tepukan tangan di pundak Melinda.

"Hei, Asti.. Ardi.. Pak Ferdy..", sahut Melinda senang ketika melihat mereka bertiga.

"Mana suamimu?", tanya Asti. "Sedang ke Lombok dengan anak-anak", jawab Melinda.

"Duduklah di sini, temani aku makan..", kata Melinda.
Mereka pun segera duduk dan makan pagi bersama satu meja. Asti dan Ardi adalah teman bisnis suami Melinda di Jakarta, sedangkan Ferdy adalah seorang dokter, duda, yang jadi dokter keluarga Melinda. Ferdy dikenalkan kepada keluarga Melinda oleh Asti dan Ardi dulunya.

"Nanti malam kita turun yuk? Kita habiskan malam bersama di diskotik", ajak Ardi kepada Melinda.

"Entahlah..", kata Melinda.

"Loh kenapa? Ayolah Bu Melinda, kita sekali-sekali bergembira bersama", kata Ferdy ikut menyela sambil tersenyum menatap Melinda.

"Ikutlah, Melinda.. Masa cuma aku seorang ceweknya..", kata Asti.

"Baiklah kalau begitu.. Aku ikut", kata Melinda sambil tersenyum.

"Kamu tinggal di kamar berapa?", tanya Ardi kepada Melinda.

"Aku di suite room..", kata Melinda sambil menyebutkan nomor kamarnya.

"Ha? Kalau begitu kita bersebelahan dong..", kata Asti sambil menyebutkan nomor kamar mereka.

"Yee.. Kok aku tidak tahu, ya? Kapan kalian check in?", tanya Melinda.

"Semalem. Tadinya kami mau tinggal di kamar lain, tapi karena sudah penuh, akhirnya kami ditunjukkan kamar yang masih pada kosong..", kata Ardi.

"Tau nggak kalau kamar kita terhubung oleh connecting door?", kata Melinda kepada Asti.

"Iya? Berarti kita bisa kumpul-kumpul nih..", kata Asti girang.

"Oke deh, Melinda.. Nanti malam kita pergi bareng ke Diskotik, ya?', ujar Ardi.

"Aku bawa minuman enak dari Perancis nanti..", kata Ardi lagi.

"Baiklah. Kalian pada mau kemana?", tanya Melinda.

"Kami ada keperluan dulu. Bye..", kata Asti sambil bangkit diikuti Ardi dan Andi, lalu mereka pergi.

Malamnya, dengan memakai T-shirt ketat plus rok katun sangat mini sehingga paha mulusnya tampak dengan indah, Melinda berangkat dengan mereka ke diskotik.

"Kita minum dulu deh biar hangat", kata Ardi sambil menuang minuman bawaannya ke dalam gelas dan disodorkan kepada Melinda.

"Okay.. Siapa takut..", kata Melinda sambil meneguk minumannya.

"Hm.. Enak.. Manis.. Give me more, please.", kata Melinda kepada Ardi.

Ardipun segera menuang lagi minuman ke gelas Melinda yang sudah kosong.

"Jangan terlalu banyak, Melinda.. Nanti kamu jadi hot, loh..", kata Asti sambil tertawa.

Mereka tertawa-tawa sambil menikmati minuman berakohol diiringi lagu yang diputar DJ.

"Turun, yuk..", ajak Ferdy kepada Melinda.

"Ayo..", kata Melinda sambil bangkit.

Perasaannya sudah mulai terpengaruh alkohol. Akhirnya Asti dan Ardi serta Melinda dan Ferdy melantai mengikuti hentakan irama yang cepat. Sampai akhirnya ketika lagu berganti ke irama slow, Melinda dan Ferdy saling berangkulan dan berdansa mengikuti alunan irama lagu.

"Mmhh..", Melinda mendesah hampir tak tedengar ketika dadanya bersentuhan dengan dada Ferdy.

Entah karena pengaruh alkohol atau memang karena libido Melinda yang tinggi, puting susu Melinda mengeras dan makin mengeras ketika dadanya bersentuhan dengan badan Ferdy. Gairah Melinda bangkit karenanya. Tapi Melinda masih bisa menahan dirinya.

Mereka terus menikmati waktu yang ada sambil meneguk minuman hingga wajah mereka memerah. Melinda benar-benar menikmati malam itu selagi bisa bebas dari beban pekerjaan dan anak-anaknya. Sampai ketika waktu menunjukkan jam 1.00 pagi mereka segera pulang ke hotel.

"Kita ngobrol di kamar saja, yuk?", kata Ardi.

"Okay.. Nanti aku buka connecting door-nya", kata Melinda sambil berlalu menuju kamarnya.

Sementara Asti, Ardi dan Ferdy masih duduk-duduk di lobby.

Sesampainya di kamar, Melinda segera membuka connecting door-nya, lalu dia ketuk pintu sebelahnya. Tidak ada jawaban.

"Ah, masih pada di bawah barangkali..", pikir Melinda sambil merebahkan badannya di ranjang.

Hampir setengah jam menunggu, ternyata mereka tidak datang juga. Akhirnya Melinda memutuskan untuk berendam air hangat dan mandi selama beberapa menit.

"Hei.. Sorry kami kelamaan..", suara Asti yang tiba-tiba masuk kamar mandi mengagetkan Melinda yang baru saja memakai kimono.

"Ardi dan Ferdy di ruang tengah..", kata Asti lagi sambil agak sempoyongan.

"Kamar kamu enak juga ada ruang tamunya.. Kita bisa ngobrol disini..", kata Asti lagi.

"Shit!! Ngapain kumpul di kamar aku?", bisik hati Melinda.

"Hei perempuan! Cepatlah kemari.. Kita habiskan sisa minuman tadi", terdengar suara Ardi memanggil.

Akhirnya mereka berempat lagi-lagi meneguk bergelas alkohol yang dibawa Ardi.

"Ohh.. Gawat! Kenapa aku jadi pengen..", hati Melinda berbisik ketika pengaruh alkohol mulai menjalar di tubuhnya.

Terasa oleh Melinda buah dada serta puting susunya mulai mengeras lagi, sementara memeknya terasa berdenyut basah menahan gairah..

"Aku akan hirup udara segar dulu..", kata Melinda sambil bangkit agak terhuyung menuju teras.

Dihirupnya udara malam dalam-dalam untuk mengurangi sesuatu di dalam tubuhnya yang mulai menggoda imannya.

"Ohh..", tiba-tiba terdengar suara Ardi mendesah keras dari dalam.

Melinda segera melongokan kepalanya untuk melihat apa yang terjadi.

"Oh my God!", batin Melinda ketika melihat apa yang terjadi. Gairah dan denyutan memeknya semakin terasa menggoda.

Di depan matanya, Melinda melihat bagaimana Asti berciuman dengan suaminya di kursi sambil tangannya mengocok penis Ardi yang sudah tegak. Celana Ardi hanya dibuka dan diperosotkan sebatas pahanya saja.

"Ohh.. Cepat hisap kontol aku, bitch!", kata Ardi kepada Asti.

Dengan serta merta Asti menurunkan kepalanya, lalu dengan segera penis Ardi sudah dilahapnya sambil tetap dikocok pelan.

"Ooh..", desah Ardi ketika lidah Asti menjilati kepala penisnya sambil batangnya tetap dikocok tangan Asti.

"Apa yang harus aku lakukan?", batin Melinda ketika melihat penis Ardi yang basah di jilat dan dihisap mulut Asti.
Gairahnya semakin memuncak. Dengan mata agak nanar terus dilihatnya Asti dan Ardi. Antara sadar dan tidak, tak terasa oleh Melinda ketika Ferdy menempelkan tubuhnya dari belakang. Tangan Ferdy menyusuri kaki Melinda dari betis sampai paha lalu naik ke pantat Melinda yang belum sempai memakai pakaian dalam sejak selesai mandi tadi..

"Hei! Pak Ferdy ngapain?!", kata Melinda kaget sambil menepis tangan Ferdy dari pantatnya.

"Kita sama-sama tahu sama-sama mau kan..", kata Ferdy sambil mendekati Melinda.

Melinda segera menghindar dan berlari menuju kamarnya melewati Asti dan Ardi yang sedang asyik melakukan oral seks. Asti dan Ardi sampai kaget dan menghentikan cumbuan mereka ketika melihat Melinda melintas.

Di dalam kamarnya Melinda masih bingung dan teringat akan oral seks Asti dan Ardi serta perlakuan Ferdy kepadanya. Sebetulnya gairah Melinda sudah sangat memuncak saat itu, tapi entah kenapa masih ada rasa ragu di hatinya.

"Ada apa, Melinda?", tiba-tiba Asti masuk kamar dan menghampiri Melinda yang masih berdiri.

"Entahlah.. Aku.. Aku aku tak tahu..", kata Melinda sambil melepas kimono lalu segera memakai celana dalamnya.

Tapi ketika Melinda akan memakai memakai Bra, tiba-tiba Asti memeluknya dari belakang hingga Melinda tidak jadi memakai Bra tersebut.

"Ayolah Melinda, kita nikmati malam ini..", bisik Asti ke telinga Melinda.

"Mmhh..", desah Melinda ketika tangan Asti mengusap seluruh badannya.

Usapan dan belaian tangan Asti kembali mengobarkan gairah Melinda yang sempat surut.

"Kapan lagi kita bisa bersama seperti ini?", bisik Asti lagi sambil tangannya meremas kedua buah dada Melinda dari belakang.

"Ohh..", desah Melinda sambil terpejam menikmati sensasi jari tangan Asti ketika memainkan dan memelintir puting susunya.

"Mmhh.. Ohh..", desah Melinda makin keras ketika lidah dan bibir Asti menyusuri telinga, tengkuk dan lehernya sembari tangannya tetap meremas dan memainkan puting susu Melinda.

"Nikmati saja malam ini..", bisik Asti sambil membalikan badan Melinda dan merebahkannya di ranjang.

"Oww..", jerit lirih Melinda ketika lidah dan bibir Asti menciumi dan menjilati buah dada serta puting susunya.

"Astiihh.. Oohhsshh..", jerit Melinda makin keras ketika jari Asti masuk ke celana dalam dan menggosok memeknya.

Tubuh Melinda menggeliat terbawa rasa nikmat dan terlepasnya himpitan gairah yang tertahan sebelumnya.

"Kamu menyukai ini?", bisik Asti sambil lidah dan mulutnya turun menyusuri perut sementara tangannya melepas celana dalan yang dipakai Melinda.

"Ohh.. Assttiihh..", jerit Melinda ketika ada rasa nikmat yang menjalar ketika lidah Asti dengan liar menyusuri belahan memeknya.

"Ohh Asti.. Enakkhh", desah Melinda waktu lidah Asti menjilati kelentit dan sesekali mengulumnya.

"Anniihh.. Akku.. Keluarrhh..!", jerit Melinda sambil menggelinjang dan mendesakan kepala Asti ke memeknya ketika ada semburan hangat terasa di memeknya yang disertai rasa nikmat yang luar biasa.

Asti tersenyum sambil bangkit lalu memeluk dan melumat bibir Melinda.

"Aku baru kali ini merasakan bercumbu dengan wanita.. Ternyata memuaskan..", bisik Melinda sambil sesekali mengecup bibir Asti.

Ketika Melinda dan Asti saling lumat bibir, terasa oleh Melinda ada tangan yang menjamah, membelai dan meremas pelan buah dadanya.

"Sayang, kamu layani si Ferdy..", Ardi menyuruh dan menarik tubuh Asti dari atas tubuh Melinda.

"Kamu menyukai permainan istriku, Melinda?", kata Ardi yang sudah telanjang bulat sambil menindih tubuh Melinda serta mulai menciumi leher lalu turun ke buah dada Melinda.

"Jangaann!! ", teriak Melinda sambil meronta menjauhkan wajah Ardi dari buah dadanya.

Tapi Ardi dengan cepat memegang kedua tangan Melinda, lalu lidah dan mulutnya kembali meneruskan menjilati buah dada dan puting susu Melinda.

"Ohh.. Jangaannhh.. Janghh.. Jangannhh..", rintih Melinda diantara rasa malu, rasa terhina, serta rasa nikmat ketika lidah Ardi bisa memberikan rasa itu.

Apalagi ketika penis Ardi yang tegang dan tegak mengesek-gesek memeknya yang sudah basah. Bahkan ketika lidah Ardi turun ke perut, turun lagi hingga mencapai memeknya, Melinda kembali menggelepar dalam kenikmatan walau hatinya menolak diperlakukan demikian.

"Jangannhh..!", jerit lirih Melinda ketika Ardi mulai mengarahkan penisnya ke lubang memeknya.

Asti yang sedang asyik disetubuhi Ferdy sempat menghentikan persetubuhannya lalu bangkit dan mencoba memegang penis Ardi agar tidak menyetubuhi Melinda.

"Sudah! Kamu nikmati saja kontol si Ferdy sana!", kata Ardi agak keras sambil mendorong tubuh Asti.

"Sudahlah, Asti.. Sini!", kata Ferdy sambil menarik dan merebahkan tubuh Asti di karpet lalu kembali menyetubuhi istri temannya itu.

"Ohh..!", terdengar desah Melinda ketika penis Ardi masuk ke memeknya lalu dengan kasar dan cepat Ardi menggenjotnya.

"Jangan, Ardiii.. Lepaskan aku!", jerit lirih Melinda di sela rasa sakit dan nikmat ketika penis Ardi keluar masuk memeknya.

"Fuck you, bitch!", kata Ardi sambil mengangkat satu kaki Melinda dan di tahan oleh pundaknya.

"Ohh.. Memekmu nikmat, Melinda..", kata Ardi sambil memompa kontolnya lebih dalam dengan posisi demikian.

"Ohh.. Mmhh..", desah Melinda sambil terpejam.

Rasa sakit yang ada kini berganti rasa nikmat yang luar biasa.

"Bagaimana rasanya, sayang..", terdengar suara Asti di samping Melinda ketika Asti mengganti posisi dengan doggy style di atas ranjang.

"Kamu nikmati saja malam ini, Melinda.. Kapan lagi kita bisa bersama seperti ini..", Ferdy menyela sambil mengenjot memek Asti dalam posisi menungging.

"Mmhh.. Sshh.. Ohh", Melinda hanya menjawab dengan desahan pertanda sedang menikmati suatu kenikmatan ketika Ardi dengan ganas mengeluar-masukkan penis ke memeknya.

"Ooww.. Ohh..!", terdengar suara Melinda menjerit sambil memegang tangan Ardi dengan kencang.

Sementara tubuhnya menggeliat serta mendesakkan memeknya ke penis Ardi dan menggoyangnya dengan cepat.

"Serr! Serr! Serr!", kembali memek Melinda mengeluarkan air mani yang menyembur hangat di dalam memeknya.

"Ohh.. Fuck you! Fuck you!", kata Ardi sambil menggenjot kontolnya makin cepat dan makin cepat.

"Crott! Croott! Crott!", air mani Ardi menyembur banyak di dalam memek Melinda.

"Oohh..!!", desah Ardi sambil merebahkan tubuhnya menindih tubuh Melinda.

Melinda hanya bisa memejamkan mata setelahnya. Rasa lelah serta pengaruh alkohol yang masih ada membuatnya tak mempedulikan lagi keadaan disekelilingnya. Yang sempat terdengar oleh telinga Melinda adalah teriakan kenikmatan yang keluar dari mulut Asti dan Ferdy yang sedang asyik bersetubuh di depan suami Asti sendiri.

Mata Melinda sedikit demi sedikit makin berat. Hanya rasa nyaman dan sisa-sisa kenikmatan di memek Melinda yang membuat memeknya berdenyut-denyut hingga Melinda tertidur.

Melinda tertidur sampai siang hari dalam kedaan telanjang bulat. Tubuhnya tertidur hanya diselimuti oleh bed cover. Tak terdengar olehnya ketukan pintu oleh cleaning service. Sehingga ketika cleaning service membuka pintu dengan kunci cadangan yang dia bawa, dia begitu terkejut melihat tubuh molek tergolek di ranjang.

"Eh.., maaf, Bu.. Saya kira tidak ada siap-siapa di dalam", kata petugas kebersihan tersebut.

"Tidak apa-apa.. Kembali lagi saja dan bereskan kamar saya nanti agak siang..", kata Melinda sambil menyelimuti tubuhnya lebih rapat.

Setelah petugas itu keluar, Melinda hanya bisa merenungi apa yang terjadi semalam. Melinda sendiri merasa heran, dirinya tidak mau dipaksa, diperkosa, entah apapun namanya, tapi yang jelas dirinya begitu menikmati perlakuan orang lain yang begitu kasar pada dirinya pada akhirnya..

Melinda memang sangat suka berpetualang seks dari sebelum menikah sampai sekarang, tapi belum pernah merasakan sensasi kenikmatan seperti yang dirasakan semalam. Ingin rasa hati Melinda menceritakan hal ini kepada suaminya, tapi pertentangan batin terjadi dalam hatinya karena hal ini menyangkut kepada teman-teman baik suaminya.

Bahkan terbersit keinginan Melinda untuk kembali ingin mendapatkan sensasi kenikmatan dengan menjadi objek pemaksaan seksual.
Cerita pengalaman Sedarah, Cerita Pengalaman Sekolah, Cerita pengalaman Selingkuh, Cerita pengalaman suster, Cerita Pengalaman Tante, Cerita Pengalaman Bersama Teman